Kenapa Bencana di Sumatera Bisa Seburuk Ini?


Kenapa Bencana di Sumatera Bisa Seburuk Ini? 

Sumatera hari ini sedang berada di titik rapuh: banjir besar, longsor, sungai meluap, ribuan warga mengungsi, dan bahkan gajah — hewan indikator kesehatan hutan — kini semakin kehilangan ruang hidup.

Ini bukan kejadian mendadak. Ini hasil dari akumulasi keputusan selama bertahun-tahun: hutan diganti kebun, bukit dibongkar tambang, sungai menyempit, dan keseimbangan alam dibiarkan rusak sedikit demi sedikit sampai akhirnya runtuh.


Inilah penyebab-penyebab besar yang membuat Sumatera akhirnya berada di titik rapuh seperti sekarang.

1. Ekspansi Sawit yang Tak Pernah Berhenti


Dalam dua dekade terakhir, jutaan hektare hutan Sumatera berubah menjadi kebun sawit. Hutan alam yang tadinya menyerap air, menjaga tanah, dan menahan banjir diganti dengan monokultur yang tidak punya kemampuan yang sama.

Yang sebagian membuat masyarakat heran adalah cara pikir yang terlihat dari ucapan sebagian pejabat.
Bukan karena ucapan itu penyebab langsung bencana, tetapi karena cara pikir seperti inilah yang selama bertahun-tahun membenarkan pembukaan hutan besar-besaran.

Salah satu contohnya muncul dari pernyataan Presiden Indonesia:

“Saya kira ke depan kita harus tambah tanam kelapa sawit. Enggak usah takut apa itu katanya membahayakan, deforestation. Namanya kelapa sawit, ya pohon, ya kan? Kelapa sawit itu pohon, ada daunnya kan. Dia menyerap karbondioksida."
~ Prabowo Subianto Presiden RI

Padahal, fakta ekologinya tidak sesederhana itu.

Sawit memang pohon — tapi fungsi ekologisnya jauh berbeda dari hutan alami. Data limpasan air menunjukkan hutan memiliki koefisien C = 0,05, artinya tanah masih mampu menyerap hingga 95% air hujan.
Sementara perkebunan sawit memiliki C sekitar 0,4–0,6, artinya daya serapnya tinggal sekitar 40%.

Inilah alasan kenapa wilayah yang hutannya berubah jadi kebun sawit lebih rentan banjir, longsor, dan kekeringan.


2. Pertambangan Besar-Besaran yang Merusak Tanah & Sungai

Tambang di Sumatera berkembang jauh lebih cepat daripada pengawasan. Bukit dikeruk, sungai tercemar, tanah jadi rapuh.
Ketika hujan turun deras, longsor hampir tidak bisa dihindari.

Di tengah situasi seperti ini, viral kembali ucapan menteri yang membandingkan eksploitasi Indonesia dengan negara lain:

“Negara maju dulu lebih parah mengeksploitasi hutan dan tambang. Kenapa ketika kita melakukan hal yang sama malah diprotes?”
— Bahlil Lahadalia

Masalahnya:
Fakta bahwa negara lain pernah salah tidak membuat kesalahan kita jadi benar.
Ini cara pikir “whataboutism”, membenarkan tindakan buruk dengan menunjuk tindakan buruk orang lain.

Sementara kerusakan tanah dan sungai di Sumatera tidak bisa disangkal.

3. Pembukaan Lahan Tanpa Tata Ruang yang Jelas

Hutan ditebang, rumah dibangun di area rawan, drainase buruk. Ketika curah hujan tinggi datang, semuanya kolaps.
Ini bukan sekadar salah cuaca — ini salah pembangunan yang tidak memperhitungkan daya dukung ekosistem.

4. Faktor Masyarakat: Sampah & Aktivitas Harian

Ya, ada juga kontribusi dari warga.

 kontribusi ini emang bukan penyebab utama, tapi bukan berarti bisa dibenarkan.

contohnya:
 • buang sampah sembarangan,
 • membakar lahan kecil-kecilan,
 • rumah dibangun di bantaran sungai.
• dan sering tidak disadari, kita juga diam ketika hutan ditebang, tambang meluas, pekerbunan sawit menggantikan hutan, exploitasi besar besaran.

Diamnya kita membuat mereka semakin leluasa.

 Para perusak itu bukan orang yang nggak tahu akibatnya; mereka tahu, mereka paham, tapi tetap jalan karena tidak ada yang benar-benar menghalangi. 

Dan ini bukan cuma urusan Sumatra—ini tanggung jawab kita semua sebagai warga Indonesia untuk tidak lagi membiarkan kerusakan berjalan diam-diam.
 

Bencana di Sumatra tidak muncul tiba-tiba. Ia lahir dari rangkaian keputusan buruk, pembiaran yang panjang, dan cara pikir yang menganggap perusakan alam sebagai hal wajar.

Hutan diganti perkebunan, bukit dikupas tambang, sungai dicekik sedimentasi, dan tata ruang dibiarkan kacau.
Ketika hujan besar datang, semua kesalahan itu menagih harga.

Kontribusi masyarakat memang ada, termasuk ketika kita diam saat hutan dihancurkan dan tambang diperluas. Diamnya kita membuat kerusakan itu seperti tidak punya konsekuensi.
Tapi tetap harus jelas: akar kerusakan terbesar berasal dari mereka yang punya kuasa dan modal untuk menggunduli alam dalam skala masif.

Kerusakan itu terjadi karena dua hal berjalan bersamaan: tindakan besar dari para perusak, dan tidak adanya sikap tegas dari kita semua.
Tanpa kombinasi itu, bencana sebesar ini tidak akan lahir.


Dan ini bukan cuma urusan Sumatra.
Ini tanggung jawab seluruh warga Indonesia untuk berhenti membiarkan kerusakan berjalan diam-diam.

Pada akhirnya, alam tidak peduli siapa pejabatnya atau siapa yang kita bela.
Ketika ia rusak, akibatnya menimpa semua orang yang hidup di atasnya.

Komentar

Postingan Populer