JEDA YANG TAK MEREKA PAHAMI

JEDA YANG MEREKA TAK PAHAMI 

Beberapa minggu terakhir rasanya seperti aku sedang melawan dunia. Bukan karena aku ingin jadi pemberontak, tapi karena aku ingin jujur pada diri sendiri. Aku sudah memikirkan dengan matang rencana hidupku—sebuah keputusan untuk mengambil gap year—tapi ternyata keyakinan itu tidak cukup di mata orang-orang terdekatku.

Aku pergi ke tempat yang kupikir bisa memberiku ketenangan, tapi ternyata di sana pun aku kembali dibenturkan pada ekspektasi keluarga. Aku diam, karena aku menghormati. Tapi hatiku tidak bisa diam. Aku mengurung diri di kamar, bukan karena malas, tapi karena terlalu sesak untuk menjelaskan bahwa aku tidak sedang lari. Aku sedang bertahan.

Aku tidak ingin jadi pengangguran. Aku tidak ingin hidup tanpa arah. Justru karena aku tahu siapa diriku, dan karena aku sedang belajar mengenalnya lebih dalam, aku butuh waktu. Tapi di mata mereka, waktu itu sama dengan kegagalan. Di mata mereka, aku harus kuliah. Harus tampak sukses. Harus bergerak, meskipun belum tahu mau ke mana. Tapi bagaimana jika sukses menurutku tidak sama seperti sukses menurut mereka?

Aku tahu kekhawatiran mereka datang dari cinta, tapi cinta yang tidak memberi ruang untuk pilihan terasa seperti tekanan, bukan pelukan.

Buat kalian yang mungkin juga sedang ditanya terus menerus, yang disebut malas padahal sedang merawat luka, aku lihat kalian. Kalian tidak sendiri. Mungkin tidak semua orang akan mengerti, tapi bukan berarti keputusan kalian salah. Kadang diam kita bukan bentuk menyerah, tapi bentuk bertahan.

Aku akan tetap mencari jalan. Entah dengan kuliah atau tidak, aku ingin hidup yang bukan karena tuntutan orang lain, tapi karena aku benar-benar hidup di dalamnya. Ini bukan akhir. Ini jeda. Dan aku akan membuat jedaku berarti.

Komentar

Postingan Populer