Barak Militer: Membangun Disiplin atau Membungkam Kreativitas?


Belakangan ini saya mulai banyak membaca tentang program Dedy Mulyadi yang mengirim pelajar "nakal" ke barak militer. Terus terang, awalnya saya bingung harus berpihak ke mana. Di satu sisi, niatnya terlihat baik—ingin membentuk karakter, membangun disiplin, dan menanamkan jiwa bela negara. Anak-anak SMA/SMK yang terlibat tawuran, kecanduan gim, merokok, bahkan mabuk-mabukan, dikirim untuk mengikuti pelatihan selama 14 hari di lingkungan militer.

Sebagai orang yang baru memahami isu ini, saya mencoba melihat dari berbagai sudut pandang. Apakah pendekatan seperti ini efektif? Apakah barak militer adalah tempat yang tepat untuk membentuk remaja yang lebih baik? Atau justru ada risiko lain yang tidak terlihat di permukaan?




Tubuh yang Tertib, Pikiran yang Sunyi?

Kalau kita lihat dari perspektif filsuf seperti Michel Foucault, barak itu bukan sekadar tempat latihan. Itu adalah instrumen kekuasaan yang tujuannya membentuk tubuh yang patuh. Bukan tubuh yang bertanya, bukan tubuh yang berpikir. Jadi kalau anak-anak yang sedang tumbuh kreativitas dan nalar kritisnya dimasukkan ke tempat yang menekankan kepatuhan mutlak, saya khawatir justru potensi mereka bisa mati pelan-pelan.

Kenakalan Itu Tanda Tumbuh

Kita suka lupa bahwa "kenakalan" pada remaja itu sering kali bukan karena mereka jahat. Bisa jadi karena mereka sedang mencari identitas, menguji batas, atau bahkan sedang belajar berpikir kritis. Dalam teori perkembangan anak, usia 13–18 tahun adalah masa emas tumbuhnya daya cipta dan daya refleksi. Kalau responsnya malah dimasukkan ke sistem keras ala militer—yang lebih suka baris-berbaris daripada dialog—apa gak sayang?


Pendidikan Itu Pedagogi, Bukan Demagogi

Beberapa akademisi menyebut pendekatan seperti ini demagogik. Kenapa? Karena kelihatan tegas di luar, tapi sebenarnya kosong di dalam. Pendidikan itu seharusnya membimbing, bukan menundukkan. Disiplin itu penting, tapi kalau tidak dibarengi dengan kesadaran dan empati, jadinya cuma ketaatan kosong. Anak-anak bukan robot.

Harapan-Orangtua yang Kadang Terlalu Instan

Saya paham, banyak orang tua yang lelah menghadapi anak-anaknya. Lalu ketika ada program seperti ini, mereka langsung berharap anaknya pulang dari barak langsung jadi "letkol". Tapi kita juga harus realistis. Perubahan karakter itu butuh proses panjang. Butuh waktu, dialog, dan lingkungan yang mendukung. Bukan sekadar tekanan fisik dua minggu.


Perlu Evaluasi yang Serius

Saya tidak sedang bilang program ini sepenuhnya salah. Justru sebaliknya—program seperti ini perlu diapresiasi karena berani keluar dari pola lama yang cenderung pasif. Di tengah sistem pendidikan yang sering terasa mandek, pendekatan Dedy Mulyadi ini memang terkesan unik dan bahkan inovatif. Jarang ada pejabat yang mencoba hal baru dan berani langsung terjun ke lapangan dengan program se-eksperimental ini.

Namun, niat baik saja tidak cukup. Pendekatannya perlu dipikirkan ulang. Pendidikan karakter harus menyentuh akar persoalan: kenapa anak merasa perlu berontak? Kenapa mereka lari ke alkohol, gim, atau tawuran? Apakah sistem pendidikan dan sosial kita sudah cukup mendukung mereka?

Alih-alih hanya mengandalkan barak militer, mengapa tidak memperkuat sistem sekolah dan keluarga dengan pendekatan psikologis, sosial, dan budaya yang lebih empatik?

Jadi menurut saya, program ini patut dihargai dari segi niat dan keberanian inovasinya, apalagi di tengah krisis kenakalan remaja yang makin kompleks. Tapi tetap, harus dibarengi dengan refleksi dan evaluasi yang serius.

Karena niat baik saja tidak cukup jika dijalankan tanpa memikirkan dampak jangka panjang. Apalagi kalau sampai dianggap sebagai solusi utama yang bisa menggantikan pendekatan pendidikan yang lebih mendalam dan manusiawi.


Komentar

Postingan Populer